Metformin dan Neuropati Perifer, Benarkah Ada Kaitannya? Metformin sudah lama menjadi salah satu obat utama untuk diabetes tipe 2. Obat ini digunakan luas karena efektif membantu mengendalikan gula darah, biayanya relatif terjangkau, dan selama bertahun tahun dianggap sebagai terapi dasar yang kuat untuk banyak pasien. Namun di tengah penggunaannya yang sangat umum, muncul pertanyaan yang makin sering terdengar di ruang praktik dan percakapan pasien: benarkah metformin bisa memicu neuropati perifer. Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak,” karena yang perlu dipahami bukan sekadar obatnya, tetapi jalur biologis yang mungkin terjadi di balik pemakaian jangka panjang.
Secara medis, neuropati perifer adalah gangguan pada saraf tepi yang bisa menimbulkan keluhan seperti kesemutan, baal, rasa terbakar, nyeri seperti tertusuk, kelemahan otot, atau penurunan keseimbangan. Pada penderita diabetes, neuropati perifer sendiri sudah sangat umum terjadi sebagai komplikasi dari gula darah tinggi kronis. Karena itu, saat pasien yang minum metformin mengalami gejala saraf, muncul persoalan penting: apakah penyebab utamanya diabetes, atau justru ada peran metformin melalui kekurangan vitamin B12.
Di sinilah penjelasan para ahli menjadi penting. Sejumlah pedoman resmi dan otoritas kesehatan tidak menyatakan bahwa metformin secara langsung “merusak saraf” sebagai efek utama. Namun mereka mengakui bahwa penggunaan metformin jangka panjang berhubungan dengan peningkatan risiko kekurangan vitamin B12, dan kekurangan vitamin B12 sendiri dapat menyebabkan atau memperburuk neuropati perifer. Jadi, hubungan antara metformin dan neuropati memang ada, tetapi lebih tepat dipahami sebagai hubungan tidak langsung yang perlu dipantau dengan serius.
Metformin tidak langsung dikenal sebagai obat perusak saraf
Penting untuk menata persoalan ini dari awal. Metformin bukan obat yang secara umum diklasifikasikan sebagai obat neurotoksik yang langsung menyerang saraf. Obat ini bekerja terutama dengan menurunkan produksi glukosa di hati dan meningkatkan sensitivitas insulin. Karena itu, dalam praktik diabetes, metformin justru sangat sering membantu pasien mengurangi risiko komplikasi dengan memperbaiki kontrol gula darah.
Namun manfaat itu tidak berarti metformin bebas dari efek samping. Salah satu efek yang kini semakin diakui secara resmi adalah penurunan kadar vitamin B12. MHRA Inggris pada pembaruan keselamatan obat menyebut kadar vitamin B12 yang menurun kini dianggap sebagai efek samping yang umum pada pasien yang menjalani terapi metformin, terutama pada dosis lebih tinggi, durasi penggunaan lebih lama, dan pada pasien dengan faktor risiko kekurangan vitamin B12.
Dengan kata lain, masalahnya bukan metformin langsung membuat saraf rusak, melainkan metformin dapat berkontribusi pada kekurangan vitamin B12, dan kekurangan inilah yang dapat memunculkan gejala neurologis termasuk neuropati perifer. Ini penjelasan yang jauh lebih akurat daripada sekadar mengatakan “metformin bikin saraf rusak.”
Kunci persoalannya ada pada vitamin B12
Vitamin B12 sangat penting untuk fungsi saraf, pembentukan sel darah merah, dan kesehatan sistem neurologis secara umum. Bila tubuh kekurangan vitamin ini, keluhannya bisa muncul dalam bentuk anemia, lemas, gangguan konsentrasi, sampai gejala neurologis seperti baal, kesemutan, kelemahan, dan gangguan berjalan. NICE dalam panduan 2024 menegaskan bahwa kekurangan vitamin B12 tidak boleh disingkirkan hanya karena tidak ada anemia atau makrositosis, karena gangguan neurologis bisa tetap muncul.
Metformin diduga menurunkan kadar vitamin B12 melalui beberapa mekanisme, termasuk perubahan penyerapan di usus halus. MHRA menyebut mekanismenya kemungkinan multifaktorial, antara lain perubahan motilitas usus, pertumbuhan bakteri berlebih, dan berkurangnya penyerapan vitamin B12 di usus halus. Ini berarti penggunaan metformin yang lama dapat membuat sebagian pasien perlahan kehilangan cadangan B12 tanpa gejala yang jelas pada awalnya.
Karena prosesnya bisa berjalan pelan, pasien kadang tidak sadar sampai muncul gejala saraf. Di sinilah masalah menjadi rumit, karena diabetes sendiri juga bisa menimbulkan neuropati. Jadi, pasien diabetes yang minum metformin dan mulai kesemutan bisa mengalami dua kemungkinan sekaligus: neuropati diabetik, neuropati akibat kekurangan B12, atau kombinasi keduanya.
Pedoman resmi sudah mengakui kaitan ini
Kaitan antara metformin, kekurangan B12, dan neuropati bukan lagi sekadar dugaan kecil. Beberapa pedoman klinis utama sudah menyinggungnya cukup jelas. Standards of Care in Diabetes 2025 dari American Diabetes Association menyebut bahwa penggunaan metformin berhubungan dengan peningkatan risiko kekurangan vitamin B12 dan memburuknya gejala neuropati. Dokumen yang sama juga menganjurkan pemeriksaan kadar vitamin B12 bila ada kecurigaan defisiensi, misalnya pada pasien dengan anemia atau neuropati perifer.
MHRA juga memberi saran kepada tenaga kesehatan untuk memeriksa kadar vitamin B12 pada pasien yang menggunakan metformin bila ada gejala yang mengarah ke defisiensi, termasuk neuropati. Selain itu, mereka menganjurkan pemantauan berkala pada pasien dengan faktor risiko. NICE dan CKS NICE juga mengulang poin yang serupa, bahwa metformin dapat menurunkan kadar vitamin B12 dan risikonya meningkat dengan durasi terapi yang lebih lama dan dosis yang lebih tinggi.
Jadi, bila pertanyaannya adalah apakah dunia medis mengakui adanya kaitan antara metformin dan neuropati perifer. Jawabannya adalah ya, tetapi dalam bingkai kekurangan vitamin B12, bukan sebagai efek toksik saraf langsung yang berlaku pada semua pasien.
Mengapa ini sering terlambat disadari
Ada beberapa alasan kenapa persoalan ini sering luput. Pertama, gejala kekurangan vitamin B12 dapat samar dan berkembang perlahan. Pasien bisa hanya merasa lebih mudah lelah, sedikit baal di kaki, atau agak goyah saat berjalan. Keluhan seperti ini sering tidak langsung dikaitkan dengan obat yang sudah dikonsumsi bertahun tahun.
Kedua, pada pasien diabetes, neuropati sering langsung dianggap sebagai komplikasi diabetes itu sendiri. Padahal Standards of Care 2026 juga menegaskan bahwa pada semua pasien diabetes dengan neuropati, penyebab lain selain diabetes harus tetap dipertimbangkan. Termasuk alkohol, toksin, dan faktor terkait obat. Ini berarti tidak semua neuropati pada pasien diabetes boleh otomatis dicap sebagai neuropati diabetik.
Ketiga, kekurangan vitamin B12 tidak selalu datang bersama anemia yang jelas. NICE menegaskan diagnosis tidak boleh disingkirkan hanya karena tidak ada anemia atau pembesaran sel darah merah. Ini sangat penting, karena banyak orang masih mengira defisiensi B12 pasti selalu terlihat di darah lengkap rutin dengan cara yang mencolok.
Siapa yang lebih berisiko
Tidak semua pengguna metformin akan mengalami kekurangan vitamin B12 atau neuropati. Namun risikonya cenderung lebih tinggi pada orang yang menggunakan metformin dalam dosis besar. Durasi lama, atau punya faktor risiko tambahan untuk defisiensi B12. MHRA dan NICE sama sama menekankan faktor ini.
Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain pasien yang sudah minum metformin selama bertahun tahun, pasien usia lanjut. Orang dengan pola makan rendah produk hewani, pasien yang juga menggunakan obat penurun asam lambung seperti PPI. Serta mereka yang sudah memiliki gejala neurologis samar. ADA 2025 juga mencatat bahwa risiko defisiensi B12 meningkat seiring waktu, dan risiko yang lebih tinggi terlihat sekitar empat sampai lima tahun penggunaan.
Dengan kata lain, semakin lama seseorang memakai metformin, semakin masuk akal untuk memikirkan pemantauan B12, terutama bila gejala mulai muncul. Ini bukan berarti metformin harus ditakuti, tetapi penggunaannya memang perlu diikuti pemantauan yang lebih cermat.
Gejala yang patut diwaspadai
Gejala neuropati perifer akibat defisiensi B12 dapat menyerupai neuropati pada umumnya. Pasien bisa merasakan kesemutan di kaki atau tangan, mati rasa, rasa terbakar. Kaki seperti tebal saat berjalan, keseimbangan menurun, atau kelemahan tertentu. Dalam kasus yang lebih berat, bisa muncul gangguan koordinasi dan perubahan gaya berjalan. NICE dalam dokumen evidensinya menempatkan peripheral neuropathy sebagai salah satu sindrom klinis yang jelas dapat muncul pada defisiensi B12.
Selain keluhan saraf, gejala lain bisa berupa mudah lelah, pucat, lidah terasa nyeri, gangguan daya ingat, atau perubahan suasana hati. NICE juga mengingatkan bahwa defisiensi B12 dapat berhubungan dengan masalah kesehatan mental seperti depresi. Cemas, atau bahkan gejala psikotik pada sebagian kasus. Jadi, gambaran klinisnya bisa lebih luas daripada sekadar kesemutan.
Bila gejala seperti ini muncul pada pasien yang sudah lama menggunakan metformin, apalagi dengan diabetes yang belum sepenuhnya terkontrol, pemeriksaan B12 menjadi langkah yang sangat masuk akal.
Apakah metformin harus dihentikan
Ini pertanyaan yang sering membuat pasien cemas. Jawabannya, tidak otomatis. Dalam banyak kasus, metformin tetap merupakan obat yang sangat berguna dan tidak harus dihentikan hanya karena muncul kekurangan B12. MHRA secara jelas menyarankan agar defisiensi B12 dikoreksi sesuai pedoman klinis, sementara terapi metformin tetap dilanjutkan selama masih ditoleransi dan tidak ada kontraindikasi lain.
Pendekatan ini penting karena manfaat metformin dalam pengelolaan diabetes tetap besar. Yang perlu dilakukan adalah mengenali masalah lebih cepat, memeriksa kadar B12 bila ada kecurigaan, lalu menangani defisiensinya. Dalam banyak situasi, dokter akan mempertimbangkan suplementasi atau terapi pengganti vitamin B12 tanpa langsung mencabut metformin dari regimen pasien.
Jadi, yang paling keliru justru menghentikan obat sendiri tanpa evaluasi. Pada pasien diabetes, tindakan itu bisa membuat gula darah memburuk dan malah menambah risiko neuropati dari diabetes itu sendiri.
Apa yang sebaiknya dilakukan pasien
Bagi pasien yang menggunakan metformin jangka panjang, langkah paling bijak adalah tidak panik, tetapi juga tidak mengabaikan gejala. Bila muncul kesemutan, mati rasa, rasa terbakar di kaki, atau keluhan neurologis lain, hal itu perlu dibicarakan ke dokter. Pemeriksaan kadar vitamin B12 patut dipertimbangkan, terutama bila penggunaan metformin sudah lama atau ada faktor risiko tambahan.
Untuk dokter dan tenaga kesehatan, pesan pedoman terbaru cukup jelas: jangan langsung menganggap semua neuropati pada pasien diabetes semata akibat diabetes. Pertimbangkan juga defisiensi B12, terutama bila pasien memakai metformin kronis. Ini penting karena defisiensi yang ditemukan lebih cepat memberi peluang perbaikan yang lebih baik sebelum gangguan saraf menjadi lebih berat.
Jadi, bila pertanyaannya adalah “benarkah metformin bisa memicu neuropati perifer,” jawaban yang paling tepat menurut penjelasan ahli dan pedoman resmi adalah: bisa berkontribusi. Terutama melalui kekurangan vitamin B12 pada penggunaan jangka panjang. Hubungan itu nyata, diakui, dan cukup penting untuk dipantau. Tetapi itu bukan alasan untuk menakuti semua pasien dari metformin. Yang dibutuhkan justru pemakaian yang cermat, pemantauan yang tepat, dan kewaspadaan terhadap gejala yang selama ini sering dianggap sepele.






