Seoul Jadi Kota Paling Ramah Pejalan Kaki 2026, Ini Kunci Utamanya Seoul di Korea Selatan kini mendapat sorotan baru sebagai kota yang paling ramah bagi pejalan kaki pada 2026. Dalam daftar The World’s Most Walkable Cities in 2026 versi Time Out, Seoul meraih skor persetujuan 93 persen dari warga lokal dan ditempatkan di posisi puncak bersama Edinburgh. Dalam artikel lanjutannya, Time Out bahkan menyebut Seoul sebagai kota paling walkable di dunia pada 2026, dengan keunggulan yang ditopang oleh infrastruktur pejalan kaki dan faktor keamanan.
Pencapaian ini terasa menarik karena Seoul bukan kota kecil yang serba rapat dan mudah dijelajahi hanya karena ukurannya mungil. Justru sebaliknya, Seoul adalah metropolis raksasa dengan penduduk sangat besar, lalu lintas padat, dan kawasan perkotaan yang sangat aktif. Namun di tengah skala sebesar itu, kota ini dinilai tetap memberi pengalaman berjalan kaki yang nyaman, aman, dan praktis untuk aktivitas harian maupun wisata. Time Out menegaskan bahwa Seoul membuktikan sebuah kota besar tetap bisa terasa ramah untuk pejalan kaki.
Ada beberapa alasan yang membuat Seoul menonjol. Time Out menyorot reputasi kota ini sebagai tempat yang aman untuk berjalan siang dan malam, lalu menunjuk kawasan seperti Myeongdong, Insadong, dan Hongdae sebagai lingkungan yang memang sangat mendukung eksplorasi dengan berjalan kaki. Selain itu, kota ini juga punya jalur pejalan kaki ikonik seperti Cheonggyecheon Stream walkway dan Seoullo 7017, yang memperlihatkan bagaimana ruang kota bisa diubah menjadi pengalaman pedestrian yang lebih menyenangkan.
Dari sini, status Seoul sebagai kota paling ramah pejalan kaki tidak lahir dari satu trotoar bagus atau satu kawasan wisata populer saja. Yang lebih penting adalah cara kota ini membangun hubungan antara keamanan, konektivitas, transportasi publik, dan ruang berjalan kaki yang benar benar dipakai orang.
Gelar ini lahir dari penilaian warga, bukan promosi sepihak
Salah satu hal yang membuat peringkat ini menarik adalah sumber penilaiannya. Time Out menyusun daftar kota paling walkable 2026 berdasarkan persentase warga lokal yang menilai kotanya baik atau sangat baik untuk berjalan kaki. Dalam daftar resmi itu, Seoul mendapat 93 persen approval rating. Ini penting karena yang bicara bukan hanya turis sesekali, tetapi orang yang hidup di kota itu dan merasakan langsung ritme jalannya setiap hari.
Pendekatan seperti ini memberi bobot berbeda pada hasil akhir. Banyak kota bisa tampak cantik di brosur wisata, tetapi belum tentu nyaman dijalani dengan berjalan kaki dalam kehidupan biasa. Warga lokal justru lebih tahu apakah trotoarnya benar benar berguna, apakah kawasan komersialnya enak ditelusuri, apakah berjalan malam tetap terasa aman, dan apakah destinasi penting saling terhubung dengan baik. Ketika Seoul mendapat nilai setinggi itu, artinya keunggulannya tidak berhenti pada citra, tetapi cukup terasa dalam pengalaman harian.
Time Out juga menekankan bahwa keunggulan Seoul datang dari kombinasi yang cukup lengkap. Bukan hanya aman, tetapi juga punya infrastruktur pedestrian yang kuat dan lingkungan kota yang mendorong orang untuk berjalan. Ini menjelaskan kenapa Seoul bisa melampaui anggapan lama bahwa kota besar identik dengan ketergantungan pada kendaraan.
Dari situ, pembicaraan tentang walkability di Seoul tidak lagi semata soal turis yang senang jalan kaki, tetapi soal bagaimana sebuah kota besar berhasil membuat aktivitas berjalan tetap relevan dan nyaman bagi warganya.
Keamanan jadi salah satu fondasi paling penting
Salah satu faktor yang paling sering disebut dalam penilaian terhadap Seoul adalah rasa aman. Time Out menulis bahwa Seoul punya reputasi sebagai kota yang sangat aman untuk berjalan kaki, baik pada siang maupun malam hari. Dalam pembicaraan soal kota ramah pejalan kaki, faktor ini sangat menentukan, karena trotoar yang bagus tidak banyak berarti bila orang tetap merasa cemas memakainya setelah gelap atau di area tertentu.
Rasa aman ini berkaitan dengan banyak hal sekaligus. Penerangan kota, kepadatan aktivitas malam yang tetap hidup, kehadiran transportasi umum, dan tata kelola ruang publik yang rapi ikut membentuk pengalaman tersebut. Di kota besar, orang berjalan bukan hanya untuk wisata, tetapi juga untuk berpindah dari stasiun ke kantor, dari halte ke toko, atau dari kafe ke rumah. Ketika rasa aman konsisten hadir, berjalan kaki tidak lagi terasa sebagai aktivitas tambahan, melainkan bagian alami dari mobilitas harian. Ini adalah inferensi yang sejalan dengan penekanan Time Out pada safety sebagai alasan utama skor tinggi Seoul.
Dalam banyak kota besar dunia, keamanan malam sering menjadi titik lemah walkability. Seoul justru dinilai kuat di wilayah ini. Itu memberi keuntungan besar, terutama bagi kota yang ekonominya hidup hingga larut dan punya budaya jalan malam yang aktif. Bagi pejalan kaki, rasa aman semacam itu membuat kota terasa lebih mudah dibaca dan lebih bersahabat.
Keunggulan keamanan ini lalu menjadi dasar bagi unsur lain yang juga tak kalah penting, yaitu kawasan yang memang didesain atau tumbuh sebagai lingkungan yang nikmat dijelajahi dengan berjalan.
Kawasan seperti Myeongdong, Insadong, dan Hongdae membuat berjalan terasa alami
Time Out secara spesifik menyebut Myeongdong, Insadong, dan Hongdae sebagai lingkungan di Seoul yang sangat cocok untuk dieksplorasi dengan berjalan kaki. Tiga nama ini penting karena mewakili jenis ruang kota yang berbeda, tetapi sama sama kuat dalam urusan pedestrian. Myeongdong dikenal sangat padat dengan toko, makanan, dan arus orang. Insadong kuat pada suasana budaya dan jalan yang nyaman dijelajahi. Hongdae hidup dengan energi muda, seni, belanja, dan jalan kaki yang terasa organik.
Yang membuat kawasan seperti ini istimewa adalah kepadatan fungsi. Orang tidak berjalan jauh tanpa alasan, tetapi karena di sepanjang rute selalu ada sesuatu yang bisa dilakukan atau dilihat. Toko, kafe, galeri, kuliner, tempat ibadah, pasar, dan akses transportasi umum hadir dalam jarak yang cukup bersahabat. Dalam bahasa perencanaan kota, inilah salah satu kunci walkability yang nyata: kota memberi cukup banyak tujuan dalam radius yang masuk akal untuk kaki manusia. Ini adalah inferensi yang didukung oleh pemilihan kawasan pedestrian kuat yang disebut Time Out.
Lingkungan seperti Myeongdong dan Insadong juga membantu karena skala bangunannya masih terasa dekat dengan manusia. Pejalan kaki tidak selalu dibingungkan oleh blok superbesar atau jalan yang terlalu memaksa kendaraan jadi pusat. Sebaliknya, mereka merasa tetap punya tempat. Ini membuat berjalan kaki di Seoul tidak terasa seperti aktivitas yang dipaksakan. Tetapi justru bagian dari cara terbaik menikmati banyak sudut kota.
Di titik ini, Seoul tidak hanya menang karena punya trotoar atau distrik belanja. Tetapi karena berhasil menyusun ruang kota yang memang mendorong orang untuk terus bergerak dengan kaki.
Cheonggyecheon menunjukkan bagaimana jalur pejalan kaki bisa menjadi pengalaman kota
Salah satu alasan paling kuat yang membuat Seoul menonjol adalah keberadaan Cheonggyecheon Stream walkway. Time Out menulis bahwa bentang air sepanjang 10 kilometer di pusat kota ini diapit jalur pejalan kaki yang bersih dan tertata baik, melewati banyak stasiun metro sekaligus menghubungkan sejumlah tujuan penting kota.
Ini menarik karena Cheonggyecheon bukan hanya trotoar di tepi jalan. Ia adalah ruang berjalan yang punya kualitas berbeda. Orang bisa bergerak di tengah kota tanpa terus menerus merasa dikejar kendaraan. Sambil tetap dekat dengan titik titik urban yang ramai. The Guardian juga menulis bagaimana transformasi Cheonggyecheon dari infrastruktur kendaraan menjadi kawasan stream-side pedestrian memberi manfaat yang luas, termasuk perbaikan kualitas ruang kota dan popularitasnya sebagai tempat publik.
Dalam pengalaman berjalan kaki, jalur seperti ini sangat penting karena mengubah persepsi tentang kota. Pejalan kaki tidak hanya dianggap sebagai orang yang “menyusuri sisa ruang” setelah kendaraan mendapat prioritas. Mereka justru diberi jalur dengan kualitas pengalaman yang tinggi. Ada air, ada ruang visual yang lebih terbuka, ada akses ke banyak titik kota. Dan ada rasa bahwa berjalan kaki sendiri adalah tujuan yang layak, bukan sekadar sarana pindah tempat. Ini adalah inferensi yang sangat sejalan dengan deskripsi Time Out atas Cheonggyecheon.
Cheonggyecheon juga menunjukkan bahwa walkability di Seoul bukan cuma soal distrik belanja atau area wisata yang cantik. Tetapi juga soal bagaimana ruang kota dikerjakan ulang agar orang benar benar mau berjalan.
Seoullo 7017 jadi simbol paling jelas dari Seoul yang pro pejalan kaki
Kalau harus mencari simbol paling nyata dari Seoul sebagai kota ramah pejalan kaki. Nama Seoullo 7017 hampir pasti muncul paling depan. Time Out menyebutnya sebagai taman elevated sepanjang 1.074 meter yang dibangun di atas bekas jalan raya dalam kota. Pemerintah Metropolitan Seoul menjelaskan Seoullo 7017 adalah elevated linear park and greenway hasil urban regeneration di atas overpass lama dekat Seoul Station. Angka “7017” merujuk pada tahun asal overpass dibangun pada 1970. Tahun kelahirannya kembali pada 2017, ketinggian 17 meter, dan koneksinya ke 17 jalur pedestrian.
Secara fisik, proyek ini sangat kuat pesannya. Seoul mengambil infrastruktur kendaraan yang lama, lalu mengubahnya menjadi ruang hijau berjalan kaki di jantung kota. Di atas sana, orang tidak hanya berjalan, tetapi juga menikmati tanaman. Fasilitas publik, kafe, pusat informasi wisata, dan pemandangan pusat kota. Pemerintah Seoul menegaskan Seoullo 7017 terbuka untuk umum dan berfungsi sebagai greenway yang menghubungkan lingkungan sekitar.
Makna proyek ini jauh lebih besar daripada sekadar taman gantung. Seoullo 7017 memperlihatkan perubahan cara pandang kota terhadap ruang. Area yang dulu melayani kendaraan kini dipulihkan menjadi ruang manusia. Dalam pembicaraan soal kota ramah pejalan kaki, langkah seperti ini sangat kuat karena menunjukkan prioritas baru. Pejalan kaki tidak hanya dilayani di permukaan jalan. Tetapi juga diberi jalur baru yang secara simbolik merebut kembali ruang dari kendaraan. Ini adalah inferensi yang didukung oleh penjelasan resmi Seoul tentang urban regeneration dan jaringan 17 pedestrian path.
Karena itu, tidak aneh bila Time Out menjadikan Seoullo 7017 sebagai salah satu alasan utama kenapa Seoul menonjol dalam daftar walkable city 2026.
Transportasi umum yang kuat ikut membuat kota lebih mudah dijalani dengan kaki
Kota ramah pejalan kaki tidak selalu berarti semua orang berjalan sepanjang hari tanpa naik kendaraan. Justru dalam kota besar, walkability sering bergantung pada hubungan yang kuat antara berjalan kaki dan transportasi publik. Dalam hal ini, Seoul punya keunggulan tambahan. Seoul Metropolitan Government menjelaskan bahwa Climate Card memberi penggunaan tak terbatas selama 30 hari untuk subway, bus, Seoul Bike, dan Hangang Bus dalam cakupan tertentu.
Kebijakan seperti ini penting karena membuat berjalan kaki menjadi bagian dari perjalanan yang lebih besar. Orang bisa naik kereta atau bus untuk jarak utama, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki di kawasan tujuan. Bila sistem transportasi umum rapat dan mudah dipakai, orang tidak perlu membawa mobil ke mana mana. Akibatnya, budaya berjalan kaki juga tumbuh lebih kuat. Ini adalah inferensi yang sangat masuk akal dari cakupan Climate Card dan integrasi transportasi Seoul.
Time Out juga menyinggung bahwa jalur seperti Cheonggyecheon terhubung dengan banyak stasiun metro. Ini menunjukkan bahwa Seoul tidak mengandalkan trotoar berdiri sendiri. Melainkan membangun jaringan di mana berjalan kaki menjadi lanjutan alami dari transportasi umum. Bagi kota besar, inilah model yang paling masuk akal. Orang tidak dipaksa memilih antara berjalan atau naik kendaraan. Mereka justru bisa melakukan keduanya dengan mulus.
Di titik ini, gelar Seoul sebagai kota paling ramah pejalan kaki 2026 tidak hanya bicara soal ruang berjalan. Tetapi juga soal bagaimana seluruh sistem mobilitasnya mendukung keputusan orang untuk lebih sering bergerak dengan kaki.
Seoul menang karena berhasil membuat kota besar terasa dekat
Yang paling menarik dari keberhasilan Seoul adalah pesan besarnya. Time Out secara terbuka menulis bahwa kota tidak harus kecil untuk menjadi walkable, dan Seoul adalah bukti yang sangat kuat untuk itu. Dengan populasi besar, wilayah luas, dan ritme metropolitan yang cepat. Seoul tetap dinilai berhasil memberi pengalaman berjalan kaki yang positif melalui kombinasi keamanan, kawasan pedestrian yang hidup, jalur publik seperti Cheonggyecheon dan Seoullo 7017, serta dukungan transportasi publik yang sangat kuat.
Dalam banyak kota besar, tantangan terbesar justru ada pada rasa kedekatan. Kota terasa terlalu luas, terlalu cepat, dan terlalu berorientasi kendaraan. Seoul menunjukkan pendekatan yang berbeda. Ia tidak mengecilkan dirinya, tetapi menata titik titik penting agar tetap bisa diakses manusia dalam skala langkah kaki. Hasilnya, kota ini tetap metropolitan, tetapi tidak sepenuhnya kehilangan sentuhan manusia. Ini adalah inferensi yang ditopang oleh seluruh alasan ranking yang disebut Time Out dan pemerintah Seoul.
Itulah yang membuat gelar ini terasa layak dicatat lebih serius. Seoul tidak menjadi kota paling ramah pejalan kaki 2026 hanya karena punya satu kawasan bagus atau satu proyek terkenal. Ia mendapat pengakuan itu karena berhasil mempertemukan rasa aman. Ruang kota yang bisa dinikmati, dan konektivitas yang membuat berjalan kaki tetap terasa masuk akal di salah satu kota terbesar di Asia.






