5 Warna Feses yang Perlu Diwaspadai, Kapan Harus Segera ke Dokter?

Kesehatan95 Views

5 Warna Feses yang Perlu Diwaspadai, Kapan Harus Segera ke Dokter? Warna feses kerap dianggap sebagai hal sepele yang tidak perlu diperhatikan. Padahal, perubahan warna saat buang air besar dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi saluran pencernaan, pola makan, penggunaan obat, hingga gangguan pada organ tertentu. Meski sebagian perubahan hanya berlangsung sementara, warna yang tidak biasa juga dapat menjadi sinyal bahwa tubuh sedang mengalami masalah kesehatan.

Feses yang sehat umumnya berwarna cokelat muda hingga cokelat tua. Warna tersebut berasal dari bilirubin, yaitu zat sisa hasil pemecahan sel darah merah yang kemudian diproses oleh hati dan dikeluarkan bersama cairan empedu. Makanan, waktu perjalanan makanan di dalam usus, serta jumlah empedu yang mencapai saluran pencernaan ikut menentukan warna akhirnya.

Perubahan warna selama satu atau dua kali buang air besar belum tentu menandakan penyakit. Konsumsi sayuran hijau, buah bit, makanan berwarna kuat, suplemen zat besi, dan beberapa jenis obat dapat membuat warna feses terlihat berbeda. Namun, perhatian lebih diperlukan ketika perubahan tersebut terjadi berulang, tidak berkaitan dengan makanan, atau disertai nyeri perut, demam, muntah, tubuh lemas, dan penurunan berat badan.

Mengapa Warna Feses Bisa Berubah?

Proses pembentukan feses dimulai setelah makanan melewati lambung dan masuk ke usus kecil. Hati menghasilkan empedu berwarna kuning kehijauan yang membantu tubuh mencerna lemak. Saat bergerak melalui usus, pigmen empedu mengalami perubahan kimia hingga menghasilkan warna cokelat yang biasa terlihat ketika buang air besar.

Apabila makanan bergerak terlalu cepat, pigmen empedu mungkin belum sempat berubah sepenuhnya. Kondisi ini dapat membuat feses terlihat hijau atau kekuningan. Sebaliknya, gangguan aliran empedu dapat membuat feses kehilangan warna cokelatnya dan terlihat pucat, abu abu, atau menyerupai tanah liat.

Warna merah dan hitam perlu mendapatkan perhatian khusus karena keduanya dapat berkaitan dengan perdarahan saluran pencernaan. Lokasi perdarahan, jumlah darah, serta lamanya darah berada di dalam saluran cerna akan memengaruhi warna yang terlihat.

“Warna feses memang bukan alat diagnosis tunggal, tetapi perubahan yang menetap dapat menjadi petunjuk awal untuk memeriksa kondisi saluran pencernaan secara lebih serius.”

1. Feses Merah Terang Bisa Menandakan Perdarahan Bagian Bawah

Feses berwarna merah terang sering menimbulkan kekhawatiran karena dapat menunjukkan adanya darah segar. Darah berwarna merah biasanya berasal dari saluran pencernaan bagian bawah, seperti usus besar, rektum, atau anus. Dalam istilah medis, keluarnya darah merah segar melalui anus dikenal sebagai hematokezia.

Salah satu penyebab yang cukup sering ditemukan adalah wasir. Pembuluh darah di sekitar anus dapat membengkak dan terluka, terutama ketika seseorang mengejan terlalu kuat akibat sembelit. Darah biasanya tampak pada tisu toilet, menetes ke kloset, atau terlihat sebagai garis merah di permukaan feses.

Luka kecil pada anus yang disebut fisura ani juga dapat menimbulkan darah merah terang. Kondisi ini sering disertai rasa perih atau nyeri tajam ketika buang air besar. Fisura dapat muncul setelah mengeluarkan feses yang besar dan keras, tetapi juga bisa terjadi akibat diare berkepanjangan.

Penyebab lain yang perlu diperiksa mencakup peradangan usus, divertikulosis, polip, infeksi saluran pencernaan, dan keganasan pada usus besar. Diare berdarah yang disertai lendir, demam, atau kram perut dapat berkaitan dengan infeksi tertentu. NHS menyarankan pemeriksaan medis bagi orang yang mengalami diare berdarah karena kondisi tersebut dapat berhubungan dengan disentri atau infeksi usus.

Makanan juga dapat membuat feses terlihat merah. Buah bit, buah naga merah, tomat dalam jumlah banyak, minuman berpewarna merah, dan makanan dengan pewarna buatan dapat meniru warna darah. Perbedaannya tidak selalu mudah dikenali hanya melalui pengamatan.

Segera cari pertolongan apabila darah keluar dalam jumlah banyak, perdarahan tidak berhenti, air kloset berubah merah, atau terdapat gumpalan darah. Kondisi yang disertai pusing, keringat dingin, jantung berdebar, tubuh sangat lemas, serta hampir pingsan juga membutuhkan penanganan darurat.

2. Feses Hitam Pekat dan Lengket Tidak Boleh Diabaikan

Feses hitam tidak selalu disebabkan oleh perdarahan. Suplemen zat besi, obat yang mengandung bismut, arang aktif, serta konsumsi makanan berwarna sangat gelap dapat mengubah warna feses. Bismut, misalnya, dapat bereaksi dengan sulfur di dalam sistem pencernaan dan menghasilkan zat berwarna hitam yang umumnya tidak berbahaya.

Hal yang perlu diwaspadai adalah feses hitam pekat, lengket, mengilap, menyerupai aspal, dan memiliki bau sangat menyengat. Kondisi tersebut disebut melena dan sering berhubungan dengan perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas, termasuk kerongkongan, lambung, atau bagian awal usus kecil.

Darah yang keluar dari lambung akan mengalami proses pencernaan sebelum dikeluarkan. Proses itu membuat warnanya berubah dari merah menjadi hitam. Penyebabnya dapat berupa tukak lambung, radang lambung yang mengalami perdarahan, luka pada kerongkongan, pembuluh darah yang pecah, atau gangguan lain pada saluran cerna bagian atas.

Penggunaan obat antinyeri tertentu juga perlu diperhatikan. Obat antiinflamasi nonsteroid dapat mengiritasi lapisan lambung dan meningkatkan risiko luka serta perdarahan pada sebagian orang. Risiko dapat meningkat pada pemakaian jangka panjang, dosis tinggi, usia lanjut, atau penggunaan bersamaan dengan obat pengencer darah.

Feses hitam yang disertai muntah darah atau muntahan berwarna gelap menyerupai bubuk kopi merupakan keadaan serius. Keluhan lain dapat berupa nyeri perut, sesak napas, pusing, pucat, denyut nadi cepat, dan kehilangan kesadaran. NIDDK menyebut feses hitam seperti ter, darah merah atau merah marun dalam feses, muntah darah, serta rasa ingin pingsan sebagai tanda komplikasi yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Jangan langsung menganggap feses hitam berasal dari makanan atau suplemen apabila penyebabnya tidak jelas. Pemeriksaan dokter mungkin melibatkan tes darah, pemeriksaan feses, dan endoskopi untuk mencari sumber perdarahan.

3. Feses Putih, Abu Abu, atau Seperti Tanah Liat

Feses yang sangat pucat, putih, abu abu, atau menyerupai tanah liat dapat menunjukkan bahwa jumlah empedu yang mencapai usus terlalu sedikit. Bilirubin di dalam empedu merupakan salah satu zat yang memberikan warna cokelat pada feses. Ketika aliran empedu terganggu, warna cokelat tersebut dapat menghilang.

Gangguan dapat berasal dari hati, kantong empedu, saluran empedu, atau pankreas. Batu empedu yang menyumbat saluran, peradangan hati, penyempitan saluran empedu, serta gangguan pankreas termasuk beberapa kondisi yang dapat memengaruhi aliran empedu. Cleveland Clinic menyatakan bahwa feses pucat dapat berkaitan dengan masalah pada saluran empedu, kantong empedu, hati, atau pankreas.

Satu kali buang air besar dengan warna lebih terang belum tentu berbahaya. Namun, feses yang terus berwarna putih atau abu abu selama beberapa hari perlu diperiksa, terutama jika tidak ada perubahan makanan atau penggunaan obat tertentu.

Perhatikan pula gejala yang muncul bersamaan. Penyumbatan aliran empedu dapat menyebabkan kulit dan bagian putih mata menguning, urine berwarna gelap, gatal pada kulit, mual, kehilangan selera makan, serta nyeri di perut kanan atas. Kombinasi feses pucat, urine gelap, dan penyakit kuning memerlukan pemeriksaan secepatnya.

Pada bayi dan anak, feses putih juga perlu segera dikonsultasikan kepada dokter. Warna tersebut dapat berkaitan dengan gangguan hati atau saluran empedu yang membutuhkan pemeriksaan sedini mungkin.

4. Feses Kuning Berminyak dan Sulit Disiram

Feses kuning dapat muncul setelah seseorang mengonsumsi banyak makanan berlemak, wortel, ubi, labu, atau bahan pangan yang mengandung pigmen kuning dan oranye. Perubahan sesaat tanpa keluhan lain biasanya tidak langsung menunjukkan penyakit.

Perhatian lebih dibutuhkan apabila feses berwarna kuning terang, tampak berminyak, mengapung, berbau tajam, dan sulit disiram. Ciri tersebut dapat menunjukkan steatorrhea, yaitu adanya lemak berlebihan di dalam feses akibat lemak tidak tercerna atau tidak terserap dengan baik.

Gangguan penyerapan lemak dapat berkaitan dengan masalah pada pankreas, hati, kantong empedu, usus kecil, atau saluran empedu. Pankreas menghasilkan enzim yang diperlukan untuk memecah lemak. Ketika produksi atau aliran enzim terganggu, sebagian lemak dapat keluar bersama feses.

Penyakit celiac juga dapat mengganggu permukaan usus kecil sehingga penyerapan zat gizi tidak berjalan baik. Keluhan dapat meliputi perut kembung, diare berulang, berat badan turun, mudah lelah, anemia, dan feses yang lebih pucat atau kekuningan.

Feses kuning yang hanya muncul sekali setelah makanan berlemak dapat dipantau. Pemeriksaan dokter diperlukan ketika perubahan berlangsung selama beberapa hari, sering berulang, atau disertai nyeri perut, demam, kehilangan berat badan, tubuh lemas, dan tanda kekurangan gizi.

Dokter mungkin meminta pemeriksaan feses untuk menilai kandungan lemak atau mendeteksi infeksi. Tes darah, pemindaian perut, serta pemeriksaan fungsi hati dan pankreas dapat dilakukan sesuai keluhan yang dialami.

5. Feses Hijau yang Disertai Diare dan Dehidrasi

Feses hijau paling sering berkaitan dengan makanan. Bayam, kangkung, brokoli, minuman berwarna hijau, dan pewarna makanan dapat menghasilkan perubahan yang cukup mencolok. Suplemen zat besi juga dapat membuat feses berwarna hijau gelap hingga kehitaman.

Selain makanan, feses hijau dapat terjadi ketika isi usus bergerak terlalu cepat. Pigmen empedu yang semula berwarna hijau belum memiliki cukup waktu untuk berubah menjadi cokelat. Hal ini umum terjadi ketika seseorang mengalami diare.

Infeksi bakteri, virus, atau parasit dapat menyebabkan diare berwarna hijau. Beberapa infeksi membuat perjalanan isi usus berlangsung lebih cepat dan mengurangi proses penyerapan cairan. Feses hijau akibat infeksi biasanya disertai buang air besar berulang, mual, muntah, demam, kram perut, atau tubuh lemas.

Risiko utama dari diare yang terus berlangsung adalah dehidrasi. Tanda yang perlu diperhatikan meliputi mulut kering, rasa haus berlebihan, jarang buang air kecil, urine pekat, mata cekung, pusing saat berdiri, dan tubuh terasa sangat lemah. Anak, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu lebih mudah mengalami kekurangan cairan.

Feses hijau yang terjadi setelah mengonsumsi sayuran atau makanan berpewarna biasanya akan kembali cokelat. Mayo Clinic menyarankan menghubungi tenaga kesehatan ketika feses hijau berlangsung lebih dari beberapa hari. Pertolongan segera diperlukan apabila muncul tanda dehidrasi.

Tanda Bahaya yang Harus Dibawa ke Unit Gawat Darurat

Tidak semua perubahan warna membutuhkan kunjungan ke unit gawat darurat. Namun, penanganan tidak boleh ditunda apabila perubahan feses disertai tanda kehilangan darah atau gangguan tubuh yang berat.

Feses merah atau hitam perlu dinilai segera, terutama ketika jumlahnya banyak atau penyebabnya tidak diketahui. Mayo Clinic menyebut warna merah terang dan hitam sebagai perubahan yang dapat menunjukkan adanya darah sehingga membutuhkan perhatian medis segera.

Ke unit gawat darurat apabila terdapat beberapa kondisi berikut:

  1. Darah keluar terus menerus dari anus.
  2. Air kloset berubah merah atau terdapat gumpalan darah besar.
  3. Feses hitam pekat, lengket, dan berbau sangat tajam.
  4. Muntah darah atau muntahan menyerupai bubuk kopi.
  5. Nyeri perut muncul mendadak dan terasa sangat berat.
  6. Tubuh pucat, berkeringat dingin, berdebar, atau hampir pingsan.
  7. Diare disertai darah, demam tinggi, dan tanda dehidrasi berat.
  8. Feses pucat disertai kulit menguning dan urine berwarna gelap.

“Menunda pemeriksaan karena mengira perubahan warna hanya berasal dari makanan dapat berisiko, terutama ketika ada perdarahan, nyeri berat, atau penurunan kondisi tubuh.”

Kapan Perlu Membuat Janji Pemeriksaan dengan Dokter?

Pemeriksaan dapat dijadwalkan apabila warna yang tidak biasa bertahan selama beberapa hari meskipun tidak ada gejala darurat. Perubahan yang sering kembali, berat badan turun tanpa alasan, pola buang air besar berubah, atau nyeri perut berulang juga perlu dibicarakan dengan dokter.

Catat makanan yang dikonsumsi, obat dan suplemen yang digunakan, waktu perubahan mulai terlihat, frekuensi buang air besar, serta gejala lain yang menyertai. Informasi tersebut dapat membantu dokter membedakan perubahan akibat makanan dengan gangguan medis.

Jangan menghentikan obat resep tanpa arahan tenaga kesehatan. Apabila perubahan feses muncul setelah memulai obat atau suplemen baru, sampaikan nama produk dan dosisnya saat pemeriksaan.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, tes darah, serta pemeriksaan sampel feses. Tes feses dapat digunakan untuk mencari darah yang tidak terlihat secara langsung, sementara tes darah membantu menilai anemia dan tingkat kehilangan darah.

Pemeriksaan lanjutan seperti kolonoskopi, endoskopi, ultrasonografi, CT scan, atau pemeriksaan fungsi hati dapat dipilih berdasarkan warna feses, usia pasien, riwayat penyakit, penggunaan obat, serta gejala lain yang ditemukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *