Kemenkes Ingatkan Hantavirus dari Tikus, Warga Diminta Waspada

Kesehatan157 Views

Kemenkes Ingatkan Hantavirus dari Tikus, Warga Diminta Waspada Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan keberadaan tikus dan celurut di lingkungan rumah, gudang, lahan pertanian, bangunan lama, area banjir, dan tempat penyimpanan makanan. Hewan pengerat tersebut dapat menjadi sumber penularan Hantavirus melalui paparan urin, air liur, kotoran, gigitan, maupun debu yang terkontaminasi. Kemenkes menyebut faktor risiko utama terdapat pada aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, termasuk pekerja sampah, petani, pekerja bangunan lama, warga di area banjir, serta orang yang berkemah atau mendaki di lokasi yang memiliki banyak jejak hewan pengerat.

Tikus Menjadi Perhatian dalam Kewaspadaan Hantavirus

Peringatan Kemenkes muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap Hantavirus. Penyakit ini termasuk zoonosis, yakni penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Dalam kasus Hantavirus, reservoir utama yang perlu diwaspadai adalah rodensia, terutama tikus dan celurut yang hidup dekat dengan manusia.

Kemenkes melalui kanal Ayo Sehat menjelaskan bahwa penyebab penyakit virus Hanta adalah virus dari genus Orthohantavirus. Tikus dan celurut disebut sebagai reservoir utama. Di Indonesia, beberapa jenis tikus yang terkonfirmasi dapat menjadi reservoir antara lain tikus got, tikus rumah, tikus belukar, tikus ladang, tikus sawah, mencit rumah, tikus wirok, dan jenis lain yang ditemukan di berbagai habitat.

Penularan Tidak Harus Lewat Gigitan

Banyak orang mengira penyakit dari tikus hanya menular bila seseorang digigit. Pada Hantavirus, penularan dapat terjadi tanpa gigitan. Risiko muncul ketika manusia terpapar urin, feses, air liur, atau debu yang mengandung partikel dari kotoran tikus yang terinfeksi.

Kemenkes menjelaskan bahwa penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan rodensia, ekskresi tikus yang mengenai kulit luka atau membran mukosa pada mata, mulut, dan hidung, serta melalui aerosol atau partikel halus yang terkontaminasi. Artinya, ruangan tertutup yang lama tidak dibersihkan, gudang berdebu, loteng, rumah kosong, dan area bekas banjir perlu ditangani dengan cara aman.

Risiko ini membuat kegiatan membersihkan tempat yang banyak kotoran tikus tidak boleh dilakukan sembarangan. Menyapu kering lantai yang penuh debu dan kotoran tikus dapat membuat partikel terangkat ke udara. Jika terhirup, partikel tersebut dapat masuk ke tubuh dan menimbulkan risiko infeksi.

Data Kemenkes Menunjukkan Kasus Suspek Sudah Tercatat

Kemenkes mencatat adanya suspek dan kasus terkonfirmasi Hantavirus di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Data ini menjadi alasan pemerintah memperkuat kewaspadaan, bukan untuk menimbulkan kepanikan. Penemuan kasus juga dipengaruhi kapasitas deteksi dan pemeriksaan laboratorium yang semakin baik.

Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga 2026 terdapat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Kemenkes juga mencatat konfirmasi meningkat dari 1 kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025 dan 5 kasus sampai Mei 2026.

HFRS dan HPS Perlu Dibedakan

Dalam pembahasan Hantavirus, ada dua bentuk penyakit yang sering disebut, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS dan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Keduanya sama sama berkaitan dengan Hantavirus, tetapi memiliki karakter klinis dan wilayah temuan yang berbeda.

Kemenkes menyebut kasus Hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe HFRS dengan strain Seoul virus. Sementara itu, HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Pemerintah juga menyatakan belum ada temuan HPS di Indonesia sampai saat ini.

Perbedaan ini penting agar masyarakat tidak menyamakan seluruh kasus Hantavirus. HPS yang ramai diberitakan dalam klaster kapal pesiar MV Hondius berkaitan dengan strain Andes virus, sedangkan kasus yang dikenal di Indonesia berkaitan dengan HFRS. Meski demikian, kewaspadaan terhadap tikus tetap dibutuhkan karena sumber penularan utamanya masih berkaitan dengan rodensia.

Gejala Awal Bisa Mirip Penyakit Lain

Salah satu tantangan dalam mengenali Hantavirus adalah gejalanya dapat menyerupai penyakit infeksi lain. Pada fase awal, seseorang bisa mengalami demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, batuk, atau keluhan tubuh yang terasa umum. Karena itu, riwayat paparan terhadap tikus atau tempat yang tercemar kotoran tikus menjadi informasi penting saat memeriksakan diri.

Kemenkes menjelaskan bahwa gejala HFRS dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, serta tubuh menguning. Sementara HPS dapat ditandai demam, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas. Kemenkes juga menyebut hingga saat ini kasus Hanta di Indonesia ditemukan dalam bentuk HFRS.

Riwayat Paparan Perlu Disampaikan ke Tenaga Kesehatan

Saat seseorang mengalami demam setelah membersihkan gudang, rumah kosong, kandang, sawah, bangunan lama, atau area yang banyak kotoran tikus, informasi tersebut perlu disampaikan kepada tenaga kesehatan. Riwayat paparan dapat membantu dokter atau petugas kesehatan mempertimbangkan pemeriksaan yang sesuai.

Organisasi Kesehatan Dunia menyebut diagnosis dini Hantavirus tidak selalu mudah karena gejala awalnya mirip dengan penyakit demam atau gangguan pernapasan lain. Karena itu, riwayat pasien perlu digali, termasuk kemungkinan paparan rodensia, risiko lingkungan, pekerjaan, perjalanan, dan kontak dengan kasus tertentu di daerah yang memiliki Hantavirus.

Kebiasaan menunda pemeriksaan saat demam tidak boleh dianggap sepele, terutama bila disertai sesak napas, nyeri badan berat, lemas hebat, atau keluhan buang air kecil yang berubah. Pemeriksaan lebih awal membantu tenaga kesehatan memantau kondisi pasien dan memberi perawatan pendukung yang diperlukan.

Lingkungan Rumah Menjadi Garis Pertahanan Pertama

Pencegahan Hantavirus dimulai dari lingkungan terdekat. Rumah, dapur, gudang, tempat sampah, saluran air, dan area penyimpanan makanan perlu dijaga agar tidak menjadi tempat tikus mencari makan dan bersarang. Tikus mudah berkembang di tempat yang menyediakan sisa makanan, tumpukan barang, lubang masuk, dan ruang gelap yang jarang dibersihkan.

Kemenkes mengimbau masyarakat menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, menyimpan makanan di tempat tertutup, serta memeriksakan diri bila mengalami demam, nyeri badan, batuk, atau sesak napas. Pemerintah juga menekankan cuci tangan pakai sabun sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat.

Makanan Harus Disimpan Rapat

Tikus sering masuk rumah karena mencari makanan. Sisa nasi, remah makanan, bahan mentah, pakan hewan, dan sampah organik bisa menarik tikus jika dibiarkan terbuka. Karena itu, makanan sebaiknya disimpan di wadah tertutup rapat, terutama pada malam hari.

Tempat sampah juga perlu memakai penutup. Sampah basah jangan dibiarkan menumpuk terlalu lama. Area dapur, bawah meja, belakang lemari, dan sela perabot harus diperiksa secara berkala karena sering menjadi jalur tikus.

Lubang kecil di dinding, celah pintu, saluran pipa, dan ventilasi rusak juga perlu ditutup. Tikus dapat masuk melalui celah yang tampak kecil. Bila rumah dekat sawah, pasar, selokan, atau area kosong, pencegahan harus lebih disiplin karena populasi rodensia biasanya lebih mudah ditemukan.

Cara Membersihkan Kotoran Tikus Tidak Boleh Sembarangan

Membersihkan kotoran tikus perlu dilakukan dengan hati hati. Cara yang salah dapat meningkatkan risiko paparan. Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah menyapu kering atau memakai penyedot debu langsung pada area yang tercemar kotoran tikus.

WHO menyarankan pencegahan Hantavirus dilakukan dengan mengurangi kontak manusia dengan rodensia, menjaga rumah dan tempat kerja tetap bersih, menutup celah masuk tikus, menyimpan makanan dengan aman, serta memakai cara pembersihan yang aman pada area terkontaminasi. WHO juga menyarankan agar kotoran rodensia tidak disapu kering atau disedot langsung, melainkan dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan.

Gunakan Pelindung Saat Membersihkan Area Berisiko

Saat membersihkan gudang, loteng, ruang bawah tangga, rumah lama, atau area yang terlihat ada kotoran tikus, gunakan sarung tangan, masker, dan alas kaki. Buka jendela atau pintu lebih dulu agar udara berganti. Setelah itu, basahi area yang terkontaminasi dengan disinfektan sebelum dibersihkan.

Kemenkes juga menyarankan penggunaan alat pelindung diri saat membersihkan rumah dan lingkungan yang dilalui hewan pengerat. Kotoran, urin, dan sekresi lain dari tikus dapat dibersihkan dengan disinfektan. Masyarakat juga diminta tidak menyentuh hewan pengerat secara langsung, baik yang hidup maupun mati.

Setelah selesai, sarung tangan harus dilepas dengan benar, tangan dicuci memakai sabun dan air mengalir, serta pakaian yang terkena kotoran dicuci. Peralatan pembersih juga perlu dibersihkan agar tidak membawa cemaran ke bagian rumah lain.

Area Banjir dan Gudang Tertutup Perlu Perhatian Lebih

Area banjir menjadi salah satu lokasi yang disebut Kemenkes sebagai faktor risiko. Setelah banjir surut, tikus dapat berpindah tempat dan meninggalkan kotoran di rumah, gudang, sekolah, tempat usaha, serta fasilitas umum. Lumpur, sampah, dan barang yang basah dapat menjadi tempat kotoran tikus bercampur dengan debu dan bahan organik.

Kemenkes menyebut faktor risiko Hantavirus mencakup aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, serta kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki. Kelompok berisiko antara lain petugas sampah, petani, pekerja di bangunan lama, dan warga yang sering berada di lingkungan dengan jejak rodensia.

Petani dan Pekerja Lapangan Perlu Lebih Waspada

Petani dapat berhadapan dengan tikus sawah, tikus ladang, dan hewan pengerat lain saat bekerja di lahan. Pekerja gudang juga berisiko karena sering berada di ruangan tertutup dengan tumpukan barang. Petugas kebersihan dan pekerja sampah menghadapi risiko dari tempat yang banyak sisa makanan dan sarang tikus.

Pekerja bangunan lama perlu berhati hati ketika membuka ruangan tertutup, plafon, gudang, atau bangunan yang lama tidak dihuni. Area seperti ini bisa menyimpan debu dan kotoran tikus. Sebelum bekerja, ruangan sebaiknya diangin anginkan dan dibersihkan secara aman.

Bagi pendaki atau orang yang berkemah, makanan harus disimpan rapat dan sampah dibawa keluar dari area kemah. Jangan tidur di tempat yang terlihat banyak kotoran tikus. Bila memakai kabin, pondok, atau gudang lama, lakukan pemeriksaan lebih dulu sebelum beristirahat.

Pemerintah Perkuat Deteksi dan Pengawasan

Kemenkes menyatakan peningkatan kasus terlaporkan ikut dipengaruhi penguatan kapasitas deteksi dan pemeriksaan laboratorium. Dengan deteksi yang lebih baik, kasus yang dulu mungkin tidak teridentifikasi kini dapat diperiksa lebih tepat. Pemerintah juga menyiapkan langkah pengawasan di pintu masuk negara dan jejaring layanan kesehatan.

Kemenkes menyebut pengawasan di pintu masuk negara diperkuat melalui thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan. Pemerintah juga menyiapkan jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing, serta kesiapan 198 rumah sakit jejaring pengampuan penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia.

Kontak Erat Kapal Pesiar Dinyatakan Negatif

Perhatian internasional terhadap Hantavirus meningkat setelah adanya klaster pada kapal pesiar MV Hondius. Kemenkes menerima notifikasi terkait satu kontak erat warga negara asing yang berdomisili di Jakarta Pusat dan sempat berada dalam satu penerbangan dengan pasien kasus kedua yang meninggal. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap kontak erat tersebut dinyatakan negatif untuk Hantavirus tipe HPS maupun HFRS.

Kemenkes tetap melakukan pemantauan ketat terhadap kontak erat tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa respons tidak hanya dilakukan ketika kasus sudah ditemukan, tetapi juga ketika ada notifikasi internasional yang perlu ditindaklanjuti.

Pendekatan ini penting karena pergerakan manusia antarnegara dapat membawa risiko penyakit yang berbeda. Meski risiko umum bagi masyarakat tetap dinilai perlu dikelola secara proporsional, kewaspadaan di fasilitas kesehatan dan pintu masuk negara membantu mencegah keterlambatan penanganan.

Penularan Antarmanusia di Indonesia Belum Terbukti

Isu penularan antarmanusia sering membuat masyarakat cemas. Kemenkes menjelaskan bahwa strain Andes virus yang berkaitan dengan HPS dalam beberapa penelitian dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dan berkepanjangan. Namun, untuk tipe HFRS yang ada di Asia dan Indonesia, sampai saat ini belum ada bukti penularan antarmanusia.

Pernyataan ini memberi batas yang jelas. Masyarakat tetap perlu waspada terhadap tikus dan lingkungan yang tercemar, tetapi tidak perlu panik seolah Hantavirus mudah menyebar seperti penyakit pernapasan biasa dalam aktivitas harian.

Fokus Pencegahan Tetap pada Pengendalian Tikus

Karena sumber utama risiko berada pada rodensia, pengendalian tikus menjadi langkah paling penting. Rumah harus dibuat tidak menarik bagi tikus, makanan tidak boleh dibiarkan terbuka, sampah harus dikelola, dan jalur masuk tikus perlu ditutup.

Perangkap tikus dapat digunakan di sekitar rumah atau tempat kerja untuk mengurangi populasi rodensia. Kemenkes juga menyarankan pengelolaan sampah secara benar dan menjaga kebersihan tempat yang lama tidak dipakai, terutama gudang, loteng, ruang penyimpanan, dan area yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Kebersihan lingkungan tidak bisa dilakukan hanya sekali. Tikus dapat kembali masuk bila sumber makanan tersedia. Karena itu, pencegahan perlu menjadi kebiasaan harian, mulai dari membersihkan dapur, menutup makanan, membuang sampah tepat waktu, hingga memeriksa sudut rumah yang jarang dilihat.

Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan

Masyarakat perlu segera memeriksakan diri bila mengalami gejala setelah berada di lingkungan yang berisiko. Demam, nyeri badan, lemas, batuk, sesak napas, keluhan buang air kecil, atau kondisi tubuh yang memburuk setelah kontak dengan area banyak tikus tidak boleh diabaikan.

WHO menyebut belum ada pengobatan antivirus khusus berlisensi atau vaksin untuk infeksi Hantavirus. Perawatan dilakukan secara suportif, dengan pemantauan klinis serta penanganan gangguan pernapasan, jantung, dan ginjal. Akses lebih awal ke perawatan intensif bila dibutuhkan dapat memperbaiki peluang pasien.

Jangan Menunggu Gejala Menjadi Berat

Keterlambatan pemeriksaan dapat membuat kondisi pasien lebih sulit ditangani. Pada tahap awal, gejala Hantavirus bisa tampak seperti demam biasa. Namun, bila ada riwayat paparan tikus, petugas kesehatan perlu mengetahuinya sejak awal.

Kemenkes mengimbau masyarakat tetap tenang, menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan pakai sabun, menghindari kontak dengan tikus dan kotorannya, serta segera berobat bila mengalami demam, nyeri badan, batuk, atau sesak napas. Imbauan ini menjadi pesan utama agar kewaspadaan berjalan tanpa kepanikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *