Mayapada Gunakan ERAS, Operasi Lutut Dibuat Lebih Cepat Pulih

Kesehatan159 Views

Mayapada Gunakan ERAS, Operasi Lutut Dibuat Lebih Cepat Pulih Mayapada Hospital memperkenalkan pendekatan Enhanced Recovery After Surgery atau ERAS untuk operasi penggantian lutut, terutama pada prosedur Robotic Total Knee Replacement di Mayapada Hospital Surabaya. Langkah ini menjadi perhatian karena operasi lutut selama ini sering dipandang sebagai tindakan besar yang membuat pasien harus menjalani rawat inap panjang, nyeri pascaoperasi berat, dan proses pemulihan yang melelahkan. Dengan ERAS, perjalanan pasien dibuat lebih terarah sejak sebelum operasi, saat tindakan berlangsung, hingga latihan bergerak setelah operasi. Mayapada Hospital Surabaya disebut menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang menerapkan standar perawatan komprehensif berbasis ERAS pada prosedur Robotic Total Knee Replacement dan telah bergabung dengan ERAS Society.

Mayapada Membawa Standar Baru Operasi Lutut

Operasi penggantian lutut biasanya dilakukan pada pasien yang mengalami kerusakan sendi berat, terutama akibat osteoartritis yang sudah mengganggu aktivitas harian. Nyeri saat berjalan, lutut kaku, sulit naik tangga, dan keluhan yang tidak membaik dengan obat atau fisioterapi sering menjadi alasan pasien berkonsultasi ke dokter ortopedi.

ERAS Membuat Perawatan Lebih Terukur

ERAS bukan sekadar teknik operasi. Pendekatan ini adalah jalur perawatan berbasis bukti yang melibatkan banyak disiplin, mulai dari dokter ortopedi, dokter anestesi, perawat, dokter rehabilitasi medik, fisioterapis, ahli gizi, hingga tim manajemen nyeri. Gleneagles menjelaskan ERAS berfokus pada persiapan sebelum operasi, kontrol nyeri yang lebih baik, mobilisasi dini, nutrisi, dan koordinasi tim medis sejak awal sampai pasien pulang.

Dalam penggantian lutut, pendekatan semacam ini penting karena keberhasilan tindakan tidak hanya diukur dari pemasangan implan. Pasien juga perlu dapat berdiri, berjalan, mengontrol nyeri, makan dengan baik, dan melanjutkan latihan setelah pulang. Dengan alur yang jelas, pasien tidak hanya menjadi penerima tindakan, tetapi ikut dipersiapkan agar pemulihannya lebih baik.

Robotic TKR Menjadi Bagian dari Layanan

Mayapada Hospital Surabaya menggabungkan protokol ERAS dengan teknologi VELYS Robotic Assisted Solution untuk membantu operasi penggantian lutut lebih presisi. Menurut laporan InvestorTrust, tindakan Robotic TKR di MHSB dilandaskan pada tiga pilar, yakni operasi presisi dengan bantuan robotik, penerapan ERAS, dan kerja tim multidisiplin.

Teknologi robotik membantu dokter merencanakan posisi implan berdasarkan anatomi pasien. Namun, teknologi tetap menjadi alat bantu. Penilaian klinis dokter, kondisi sendi, kekuatan otot, usia, penyakit penyerta, dan kesiapan pasien tetap menentukan apakah tindakan ini sesuai.

Mengapa Lutut Perlu Diganti

Tidak semua nyeri lutut harus diakhiri dengan operasi. Banyak pasien masih dapat membaik dengan penurunan berat badan, fisioterapi, obat antinyeri, perubahan aktivitas, suntikan sesuai indikasi, atau alat bantu. Operasi penggantian lutut biasanya dipertimbangkan bila kerusakan sendi sudah berat dan pilihan non bedah tidak lagi memberi hasil memadai.

Sendi Rusak Diganti Komponen Buatan

Bedah penggantian lutut atau artroplasti lutut dilakukan dengan mengangkat bagian sendi yang rusak lalu menggantinya dengan komponen buatan berbahan metal dan plastik medis. Gleneagles menjelaskan prosedur ini umum dipilih ketika nyeri dan kekakuan lutut sudah mengganggu kehidupan harian, terutama bila terapi non bedah tidak cukup membantu.

Pada pasien tertentu, prosedur ini dapat membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kemampuan bergerak. Meski demikian, keputusan operasi harus dibuat setelah pemeriksaan lengkap, termasuk penilaian klinis, rontgen, riwayat penyakit, dan kesiapan pasien menjalani rehabilitasi.

Pasien Tetap Perlu Disaring

Pendekatan ERAS tidak berarti semua pasien bisa menjalani pemulihan singkat dengan pola yang sama. Pasien lanjut usia, penderita diabetes, penyakit jantung, anemia, obesitas berat, gangguan ginjal, atau riwayat pembekuan darah perlu dinilai lebih teliti. Kondisi medis tersebut dapat memengaruhi kesiapan operasi dan pemulihan.

Karena itu, bagian awal ERAS sangat penting. Pasien tidak langsung masuk ruang operasi, tetapi menjalani penilaian dan persiapan agar risiko dapat ditekan. Pemeriksaan laboratorium, evaluasi obat harian, pengaturan gula darah, dan edukasi keluarga menjadi bagian dari proses.

Pilar Pertama, Persiapan Sebelum Operasi

Dalam pendekatan lama, pasien sering baru benar benar memahami proses operasi ketika sudah dekat dengan jadwal tindakan. ERAS berusaha mengubah cara tersebut. Pasien diberi informasi lebih awal tentang apa yang akan terjadi, apa yang harus disiapkan, dan bagaimana proses latihan setelah operasi.

Edukasi Membuat Pasien Lebih Siap

ERAS Society merekomendasikan edukasi praoperasi sebagai salah satu bagian penting dalam perawatan pasien penggantian pinggul dan lutut. Rekomendasi tersebut masuk dalam konsensus perawatan perioperatif yang memuat banyak aspek, termasuk edukasi, teknik anestesi, strategi transfusi, manajemen nyeri multimodal, dan mobilisasi dini.

Edukasi membantu pasien memahami bahwa ia akan diminta bergerak lebih awal, berlatih bersama fisioterapis, menjaga asupan makan, dan memantau tanda bahaya setelah pulang. Pasien yang paham biasanya lebih siap menghadapi rasa tidak nyaman pascaoperasi dan lebih patuh menjalankan latihan.

Kondisi Tubuh Dioptimalkan

Gleneagles menjelaskan persiapan ERAS dapat meliputi penghentian merokok atau alkohol beberapa minggu sebelum operasi, penanganan anemia bila ada, latihan ringan untuk memperkuat otot sekitar lutut, serta konseling bila pasien cemas menghadapi tindakan.

Persiapan seperti ini tidak selalu terlihat dramatis, tetapi sangat penting. Otot paha yang lebih kuat membantu pasien bergerak setelah operasi. Gizi yang baik membantu penyembuhan luka. Anemia yang ditangani dapat menurunkan kebutuhan transfusi. Kecemasan yang berkurang membuat pasien lebih mudah mengikuti arahan tim medis.

Pilar Kedua, Operasi Lebih Presisi

Pada operasi penggantian lutut, akurasi posisi implan sangat penting. Posisi yang tidak ideal dapat memengaruhi keseimbangan lutut, rasa nyeri, stabilitas, dan umur pakai implan. Di sinilah teknologi robotik menjadi bagian yang diperhatikan.

Robotik Membantu Dokter Merencanakan Tindakan

Mayapada Hospital Surabaya memakai VELYS Robotic Assisted Solution sebagai pendukung prosedur Robotic TKR. InvestorTrust melaporkan teknologi tersebut membantu meningkatkan presisi dan akurasi tindakan, serta mendukung penempatan implan yang lebih sesuai.

Bantuan robotik tidak menggantikan dokter. Dokter tetap menentukan rencana operasi dan melakukan tindakan. Sistem robotik memberi data, panduan, dan akurasi tambahan agar pemotongan tulang serta pemasangan implan lebih sesuai dengan anatomi pasien.

ERAS Tidak Bergantung pada Satu Teknik Bedah

Konsensus ERAS Society menyebut tidak ada cukup bukti untuk merekomendasikan satu teknik bedah tertentu sebagai satu satunya faktor yang menentukan keberhasilan pasien mencapai kriteria pulang. Artinya, keberhasilan ERAS berasal dari gabungan banyak bagian, bukan hanya robotik atau satu metode operasi.

Ini menjadi catatan penting. Robotik dapat membantu presisi, tetapi hasil klinis tetap membutuhkan anestesi yang tepat, kontrol nyeri, pencegahan infeksi, pencegahan pembekuan darah, latihan dini, nutrisi, dan pemantauan setelah pulang.

Pilar Ketiga, Nyeri Dikendalikan Lebih Baik

Salah satu ketakutan terbesar pasien operasi lutut adalah nyeri setelah tindakan. Rasa nyeri memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi ERAS berusaha mengendalikannya agar pasien dapat mulai bergerak lebih cepat dan lebih nyaman.

Menggunakan Manajemen Nyeri Multimodal

ERAS Society merekomendasikan pendekatan analgesia multimodal yang mengurangi ketergantungan pada opioid. Dalam penggantian lutut, penggunaan infiltrasi lokal pada area lutut dan obat antinyeri non opioid dapat menjadi bagian dari strategi, selama tidak ada kontraindikasi.

Gleneagles juga menjelaskan bahwa metode anestesi modern dapat dipadukan dengan manajemen nyeri multimodal, termasuk suntikan lokal di sekitar lutut dan blok saraf regional. Cara ini membantu mengurangi nyeri, mual, muntah, pusing, dan kehilangan darah berlebihan, sehingga pasien dapat mulai bergerak lebih awal.

Nyeri Rendah Membantu Latihan Dini

Nyeri yang tidak terkendali membuat pasien takut bergerak. Padahal, gerakan dini penting untuk mencegah kekakuan, menjaga sirkulasi, dan membantu pasien kembali mandiri. Karena itu, tim manajemen nyeri memiliki posisi penting dalam ERAS.

Pasien biasanya tetap diminta melapor bila nyeri terasa berat. Skala nyeri akan dipantau, obat disesuaikan, dan latihan dilakukan bertahap. Tujuannya bukan memaksa pasien berjalan tanpa rasa, tetapi membuat gerakan aman dapat dimulai lebih cepat.

Mobilisasi Dini Menjadi Bagian Penting

Setelah operasi lutut, banyak orang membayangkan pasien harus terus berbaring. Dalam ERAS, pola ini diubah. Pasien justru didorong untuk mulai bergerak dengan pengawasan tim medis setelah kondisi aman.

Bergerak Beberapa Jam Setelah Operasi

Gleneagles menjelaskan pemulihan dalam ERAS dimulai hampir segera setelah operasi, dengan pasien didorong bergerak dalam beberapa jam di bawah bimbingan fisioterapis. Mobilisasi dini disebut membantu sirkulasi, mengurangi kekakuan, dan menurunkan risiko komplikasi seperti pembekuan darah.

Latihan awal bisa berupa menggerakkan pergelangan kaki, menekuk lutut sesuai toleransi, duduk di sisi tempat tidur, berdiri dengan alat bantu, lalu berjalan pendek. Semua dilakukan bertahap dan dipandu, bukan dibiarkan sendiri.

Pasien Pulang Berdasarkan Kriteria

ERAS Society menekankan pentingnya kriteria pulang yang objektif. Pasien harus mampu bergerak aman, mengelola nyeri, makan dan minum, serta memahami instruksi perawatan. AAOS juga mencatat laporan ERAS menunjukkan lama rawat setelah penggantian pinggul dan lutut dapat turun dari empat sampai dua belas hari menjadi satu sampai tiga hari tanpa kenaikan signifikan angka rawat ulang.

Pada laporan Mayapada Hospital Surabaya, rata rata lama rawat disebut berkurang dari sekitar lima hari menjadi dua hari dalam evaluasi implementasi ERAS dan robotik TKR. Klaim ini berasal dari pengalaman layanan mereka dan tetap perlu dipahami bahwa hasil tiap pasien dapat berbeda.

Hasil yang Dilaporkan Mayapada

Mayapada menyampaikan sejumlah capaian dari penerapan robotik TKR dan ERAS di Mayapada Hospital Surabaya. Data ini menjadi bahan perhatian karena menunjukkan bagaimana protokol terstruktur dapat memengaruhi jalannya pemulihan pasien.

Rawat Inap Disebut Lebih Singkat

Prof. Dr. dr. Dwikora Novembri Utomo, Sp.OT, Subsp.P.L(K), yang memimpin implementasi program di MHSB, menyampaikan bahwa rata rata lama rawat inap berkurang dari sekitar lima hari menjadi dua hari. Ia juga menyebut waktu pemulihan meningkat hampir 50 persen sehingga pasien dapat lebih cepat kembali bergerak dan menjalani aktivitas sehari hari.

Angka tersebut memberi gambaran bahwa operasi lutut modern tidak lagi hanya soal tindakan di ruang operasi. Pengurangan lama rawat terjadi karena banyak bagian bekerja bersama, mulai dari persiapan, operasi, kontrol nyeri, fisioterapi, hingga kriteria pulang.

Komplikasi Disebut Menurun

Dalam laporan yang sama, angka komplikasi disebut turun hingga 60 persen. Selama masa evaluasi, Mayapada menyebut tidak ditemukan komplikasi utama seperti penggumpalan darah di kaki, pneumonia, maupun kondisi pasien harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit setelah operasi.

Meski demikian, pasien tetap harus memahami bahwa setiap operasi memiliki risiko. Infeksi, perdarahan, nyeri menetap, kaku, pembekuan darah, reaksi obat, dan masalah implan tetap perlu dibicarakan dengan dokter sebelum tindakan dilakukan.

Tim Multidisiplin Menjadi Kunci

ERAS berjalan baik bila seluruh tim mengikuti jalur yang sama. Bila dokter ortopedi, anestesi, perawat, fisioterapis, ahli gizi, dan petugas manajemen nyeri bekerja sendiri sendiri, pemulihan pasien bisa tidak teratur. Karena itu, koordinasi menjadi inti dari pendekatan ini.

Perawat dan Fisioterapis Punya Peran Besar

Perawat membantu memantau tanda vital, luka operasi, nyeri, kebutuhan obat, dan kesiapan pasien bergerak. Fisioterapis membantu pasien belajar berdiri, berjalan, menaiki tangga bila perlu, serta melakukan latihan yang aman.

Dalam ERAS, pasien tidak hanya menunggu dokter datang. Setiap profesi memiliki tugas yang saling terkait. Bila pasien mengeluh pusing, fisioterapis menyesuaikan latihan. Bila nyeri meningkat, tim nyeri dan dokter mengevaluasi obat.

Keluarga Ikut Dilibatkan

Keluarga sering menjadi pendamping utama pasien setelah pulang. Karena itu, edukasi keluarga sangat penting. Mereka perlu tahu cara membantu pasien berjalan, cara menjaga luka tetap bersih, tanda bahaya yang harus diperhatikan, dan jadwal kontrol.

Keluarga juga perlu memahami bahwa pasien tidak boleh terlalu takut bergerak, tetapi juga tidak boleh memaksakan aktivitas berlebihan. Latihan setelah operasi harus mengikuti arahan tenaga kesehatan.

Apa yang Perlu Ditanyakan Pasien

Sebelum menjalani penggantian lutut dengan pendekatan ERAS, pasien perlu aktif bertanya. Operasi besar bukan keputusan yang diambil dalam satu kali kunjungan tanpa pemahaman lengkap.

Tanyakan Kesiapan Medis

Pasien dapat bertanya apakah kondisi lutut sudah benar benar membutuhkan operasi, apakah pilihan non bedah masih tersedia, jenis implan yang digunakan, apakah teknologi robotik sesuai untuk kasusnya, dan penyakit penyerta apa yang harus dikendalikan terlebih dahulu.

Pasien juga perlu bertanya tentang anestesi, rencana obat nyeri, risiko infeksi, pencegahan pembekuan darah, lama rawat, latihan setelah operasi, serta tanda bahaya setelah pulang. Pertanyaan seperti ini membantu pasien lebih siap.

Tanyakan Rencana Setelah Pulang

Pemulihan operasi lutut tidak berhenti saat pasien keluar dari rumah sakit. Pasien masih perlu latihan, kontrol luka, minum obat sesuai resep, menjaga pola makan, dan datang kembali sesuai jadwal.

Tanyakan kapan boleh mandi, kapan boleh naik tangga, kapan boleh menyetir, kapan bisa kembali bekerja, serta aktivitas apa yang harus dihindari. Jawaban dokter dapat berbeda sesuai usia, jenis pekerjaan, kekuatan otot, dan kemajuan latihan.

Tabel Alur ERAS pada Operasi Lutut

Agar lebih mudah dipahami, berikut gambaran alur pendekatan ERAS pada operasi penggantian lutut.

TahapFokus PerawatanTujuan bagi Pasien
Sebelum operasiEdukasi, pemeriksaan, pengaturan obat, latihan ringan, optimasi giziPasien lebih siap dan risiko lebih terkendali
Hari operasiAnestesi modern, operasi presisi, kontrol perdarahan, pencegahan infeksiTindakan lebih aman dan nyeri lebih terkendali
Setelah operasi awalManajemen nyeri, makan minum lebih awal, latihan gerak dibantu fisioterapisPasien mulai bergerak dengan aman
Masa rawatPemantauan luka, latihan berjalan, evaluasi kriteria pulangPasien lebih mandiri sebelum pulang
Setelah pulangFisioterapi lanjutan, obat sesuai resep, kontrol dokterFungsi lutut dipulihkan bertahap

Tidak Semua Pasien Cocok untuk Pulang Cepat

Pendekatan ERAS sering dikaitkan dengan rawat inap lebih singkat. Namun, pulang lebih cepat bukan berarti pulang sebelum aman. Pasien tetap harus memenuhi kriteria yang ditetapkan tim medis.

Kondisi Tiap Pasien Berbeda

Pasien dengan penyakit penyerta berat mungkin membutuhkan pemantauan lebih lama. Pasien yang tinggal jauh dari rumah sakit, tidak punya pendamping di rumah, atau belum mampu berjalan aman juga bisa memerlukan penyesuaian rencana.

ERAS tidak memaksakan semua orang pulang dalam waktu yang sama. Yang dikejar adalah pemulihan terarah, bukan sekadar mempersingkat rawat inap. Keputusan pulang tetap berdasarkan kondisi pasien.

Keamanan Tetap Nomor Utama

Jika pasien demam, nyeri tidak terkendali, pusing berat, perdarahan, kesulitan berjalan, atau ada masalah medis lain, tim dokter dapat menunda kepulangan. Hal ini dilakukan untuk menjaga keselamatan.

Pasien dan keluarga sebaiknya tidak membandingkan lama rawat dengan pasien lain. Dua orang dengan operasi yang sama bisa memiliki perjalanan pemulihan berbeda karena usia, kondisi otot, penyakit penyerta, dan kesiapan rumah.

Mayapada Perluas Penguatan Layanan

InvestorTrust melaporkan bahwa pendekatan ERAS juga terus diperkuat dan dikembangkan bertahap di jaringan Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Mayapada Hospital Kuningan sebagai bagian dari layanan yang lebih terintegrasi dan berpusat pada pasien.

Standar Global Masuk Layanan Nasional

Bergabungnya Mayapada Hospital Surabaya dengan ERAS Society menempatkan rumah sakit tersebut dalam jejaring global yang mendorong perawatan berbasis data, kolaborasi multidisiplin, dan peningkatan mutu berkelanjutan.

Bagi pasien Indonesia, kehadiran layanan seperti ini memberi pilihan tambahan. Pasien yang membutuhkan operasi lutut tidak hanya mencari dokter bedah, tetapi juga dapat mempertimbangkan apakah rumah sakit memiliki jalur pemulihan terstruktur, fisioterapis, tim nyeri, dan pendampingan pascaoperasi.

Informasi Medis Harus Tetap Personal

Meski teknologi dan ERAS menawarkan banyak kemajuan, keputusan operasi tetap harus dibuat secara personal. Pasien perlu menjalani pemeriksaan langsung dan berdiskusi dengan dokter spesialis ortopedi. Informasi umum tidak bisa menggantikan konsultasi medis.

Operasi penggantian lutut dapat membantu banyak pasien yang nyerinya berat, tetapi bukan pilihan otomatis untuk semua keluhan lutut. Pemeriksaan menyeluruh tetap menjadi dasar sebelum menentukan apakah ERAS dan Robotic TKR sesuai untuk kondisi pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *