Penyakit Jantung Mengintai Usia Muda, Waspadai Gejala yang Sering Diabaikan

Kesehatan65 Views

Penyakit Jantung Mengintai Usia Muda, Waspadai Gejala yang Sering Diabaikan Penyakit jantung masih kerap dianggap sebagai masalah kesehatan orang lanjut usia. Anggapan tersebut membuat sebagian anak muda mengabaikan nyeri dada, jantung berdebar, sesak napas, mudah lelah, atau pusing yang muncul berulang. Keluhan dianggap sekadar akibat kurang tidur, stres pekerjaan, konsumsi kopi, atau tubuh yang belum pulih setelah berolahraga.

Usia muda memang umumnya memiliki risiko lebih rendah dibandingkan kelompok lanjut usia. Namun, risiko rendah tidak berarti seseorang sepenuhnya terlindungi. Penyakit jantung koroner dapat berkembang perlahan sejak usia remaja, terutama ketika seseorang memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

American Heart Association menyebut sebagian remaja telah memiliki faktor risiko kardiovaskular ketika memasuki usia 18 tahun. Kondisi yang ditemukan dapat berupa obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes tipe 2. Proses gangguan pada pembuluh darah juga dapat dimulai sejak masa kanak kanak sebelum menimbulkan keluhan saat dewasa.

Penyakit jantung sendiri bukan hanya serangan jantung. Istilah tersebut mencakup gangguan pembuluh koroner, kelainan irama, penyakit otot jantung, kelainan katup, gagal jantung, peradangan jantung, serta penyakit bawaan yang baru terdeteksi ketika seseorang mulai aktif berolahraga atau menghadapi beban fisik lebih berat.

Nyeri Dada Tidak Selalu Terasa Sangat Hebat

Nyeri atau ketidaknyamanan pada dada merupakan gejala yang paling dikenal. Keluhannya dapat terasa seperti ditekan, diremas, ditindih, penuh, panas, atau berat pada bagian tengah dada.

Sebagian orang membayangkan serangan jantung selalu menimbulkan rasa sakit yang membuat seseorang langsung jatuh. Kenyataannya, intensitas keluhan dapat berbeda. Ada pasien yang hanya merasakan tekanan ringan, sensasi seperti masuk angin, atau rasa tidak nyaman yang datang dan pergi.

Nyeri dapat menjalar menuju satu atau kedua lengan, bahu, punggung, leher, rahang, atau bagian atas perut. Keluhan yang berlangsung beberapa menit, berulang, atau muncul bersama sesak napas, mual, keringat dingin, dan pusing perlu dinilai segera oleh tenaga medis.

Pada orang muda, nyeri dada memang lebih sering berasal dari otot, sendi, gangguan lambung, atau kecemasan daripada penyakit jantung. Namun, penyebab tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan usia.

Nyeri yang muncul ketika berlari, menaiki tangga, bermain olahraga, atau melakukan aktivitas berat patut mendapat perhatian. Begitu pula nyeri yang disertai pingsan, jantung berdebar, sesak, atau riwayat kematian mendadak dalam keluarga.

Sesak Napas Bisa Menjadi Tanda Awal

Sesak napas dapat muncul ketika jantung tidak mampu memompa darah secara memadai atau ketika otot jantung tidak memperoleh oksigen yang cukup.

Seseorang mungkin merasa napas lebih pendek saat berjalan, naik tangga, membawa barang, atau melakukan kegiatan yang sebelumnya tidak menimbulkan masalah. Ada pula yang merasa sulit menarik napas penuh meski sedang duduk.

Sesak akibat gangguan jantung tidak selalu disertai nyeri dada. American Heart Association mencantumkan sesak napas sebagai tanda serangan jantung yang dapat muncul dengan atau tanpa ketidaknyamanan pada dada.

Pada gagal jantung, keluhan dapat lebih terasa ketika berbaring. Penderitanya mungkin harus memakai beberapa bantal agar dapat tidur atau terbangun pada malam hari karena tiba tiba merasa kekurangan udara.

NHS juga mencantumkan sesak saat melakukan aktivitas sehari hari, sulit bernapas ketika berbaring, kelelahan, pusing, pembengkakan kaki, dan kenaikan berat badan mendadak sebagai tanda yang dapat ditemukan pada gagal jantung.

Meski demikian, sesak juga dapat berasal dari asma, infeksi saluran pernapasan, anemia, gangguan kecemasan, atau kebugaran yang rendah. Pemeriksaan diperlukan apabila keluhan baru muncul, semakin berat, atau menghambat kegiatan harian.

Jantung Berdebar Perlu Dilihat Polanya

Jantung dapat berdebar ketika seseorang gugup, berolahraga, kurang tidur, demam, atau mengonsumsi kafein. Respons tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit.

Hal yang perlu diperhatikan adalah pola kemunculannya. Detak yang mendadak sangat cepat, terasa tidak teratur, berlangsung lama, atau muncul tanpa pemicu jelas layak diperiksa.

Kelainan irama jantung dapat membuat seseorang merasa dada bergetar, berdebar keras, seperti ada detak yang terlewat, atau denyut terasa sampai leher. Keluhan mungkin disertai lemas, sesak, nyeri dada, pusing, pandangan gelap, atau pingsan.

Aritmia tertentu dapat terjadi pada orang muda yang terlihat sehat. Penyebabnya bisa berasal dari jalur listrik tambahan sejak lahir, kelainan struktur jantung, gangguan elektrolit, penggunaan obat tertentu, konsumsi minuman berenergi berlebihan, atau zat stimulan.

Detak cepat atau tidak teratur yang disertai nyeri dada, sesak, keringat dingin, mual, pusing berat, atau kehilangan kesadaran merupakan keadaan yang membutuhkan pertolongan segera.

“Keluhan berdebar tidak cukup dinilai dari seberapa keras detaknya. Waktu kemunculan, lamanya keluhan, pemicu, dan gejala penyerta jauh lebih menentukan.”

Mudah Lelah Bukan Selalu Akibat Kesibukan

Kelelahan merupakan keluhan yang sangat umum pada usia produktif. Jadwal kerja panjang, tidur tidak teratur, pola makan buruk, dan tekanan psikologis dapat membuat tubuh cepat kehilangan tenaga.

Namun, kelelahan yang tidak biasa juga dapat menjadi tanda gangguan jantung. Seseorang mungkin merasa kemampuan fisiknya menurun meskipun aktivitasnya tidak berubah.

Kegiatan sederhana seperti berjalan dari tempat parkir, menyapu rumah, menaiki satu lantai tangga, atau membawa belanjaan mulai terasa lebih berat. Tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dan napas cepat terengah.

American Heart Association menyebut kelelahan yang tidak biasa dan kelemahan dapat muncul pada serangan jantung, terutama pada perempuan. Gejala ini dapat berjalan bersama mual, nyeri punggung, nyeri bahu, sesak, atau rasa tidak nyaman pada dada.

Kelelahan juga dapat disebabkan anemia, gangguan tiroid, infeksi, kurang tidur, depresi, atau kekurangan zat gizi. Karena penyebabnya luas, perubahan kemampuan tubuh perlu dicatat dan disampaikan secara rinci kepada dokter.

Pusing dan Pingsan Saat Olahraga Tidak Boleh Disepelekan

Pusing setelah berdiri terlalu cepat dapat berkaitan dengan penurunan tekanan darah sementara. Namun, pingsan ketika sedang berolahraga atau sesaat setelah aktivitas berat perlu diperiksa.

Pingsan dapat terjadi ketika aliran darah menuju otak berkurang. Pada sebagian kasus, penyebabnya adalah dehidrasi atau refleks tubuh yang tidak berbahaya. Pada kasus lain, keluhan dapat berkaitan dengan aritmia, kelainan katup, atau penyakit otot jantung.

Tanda yang lebih mengkhawatirkan adalah pingsan mendadak tanpa gejala awal, terjadi saat berlari, disertai nyeri dada, atau terdapat riwayat anggota keluarga meninggal mendadak pada usia muda.

Kelainan otot jantung seperti kardiomiopati dapat diwariskan dan baru menimbulkan tanda saat aktivitas fisik meningkat. Penderitanya dapat mengalami sesak, nyeri dada, jantung berdebar, pusing, atau pingsan.

Anak muda yang pernah kehilangan kesadaran saat berolahraga sebaiknya tidak langsung kembali ke latihan berat sebelum mendapat penilaian medis.

Keringat Dingin dan Mual Bisa Menyertai Serangan Jantung

Serangan jantung tidak selalu hanya terasa di dada. Sebagian pasien mengalami mual, muntah, keringat dingin, pusing, lemas, atau rasa tidak nyaman seperti gangguan pencernaan.

Keluhan dapat disalahartikan sebagai masuk angin, keracunan makanan, asam lambung, atau serangan panik. Kesalahan ini dapat membuat pasien menunggu terlalu lama sebelum mencari pertolongan.

NHS menjelaskan serangan jantung dapat menimbulkan rasa seperti gangguan pencernaan, sensasi terbakar di dada, perut terasa penuh, sesak, berkeringat, mual, dan kulit terlihat pucat.

Perempuan lebih mungkin mengalami kumpulan gejala yang tidak selalu berpusat pada nyeri dada berat. Mereka dapat merasakan kelelahan luar biasa, mual, sesak, sakit bahu, punggung, lengan, atau kecemasan mendadak. Meski demikian, nyeri atau ketidaknyamanan dada tetap menjadi gejala serangan jantung yang paling umum pada perempuan maupun laki laki.

Pembengkakan Kaki Dapat Berkaitan dengan Gagal Jantung

Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau tungkai dapat terjadi setelah berdiri lama, konsumsi garam berlebihan, cedera, atau gangguan pembuluh vena.

Jika pembengkakan terjadi pada kedua kaki, terus bertambah, disertai sesak, mudah lelah, atau berat badan naik cepat, pemeriksaan jantung mungkin diperlukan.

Ketika kemampuan pompa jantung menurun, cairan dapat menumpuk pada jaringan tubuh. Penderita mungkin melihat bekas kaus kaki yang lebih dalam, sepatu terasa sempit, atau kulit kaki meninggalkan cekungan ketika ditekan.

Kementerian Kesehatan mencantumkan pembengkakan kaki atau pergelangan kaki, sesak, kelelahan berlebihan, pusing, pingsan, serta detak tidak teratur sebagai gejala umum yang dapat ditemukan pada penyakit jantung.

Pembengkakan juga dapat berkaitan dengan penyakit ginjal, hati, gangguan hormon, atau efek obat. Penilaian dokter diperlukan agar penyebabnya tidak hanya ditebak berdasarkan satu gejala.

Penyakit Jantung pada Anak Muda Tidak Hanya Disebabkan Penyumbatan

Penyakit jantung koroner terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung berkurang karena penyempitan atau penyumbatan pembuluh koroner. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada usia lebih tua, tetapi prosesnya dapat dimulai jauh lebih awal.

Selain penyakit koroner, anak muda dapat mengalami kardiomiopati, yaitu kelainan otot jantung yang membuat jantung menebal, melebar, atau melemah.

Miokarditis merupakan peradangan otot jantung yang dapat terjadi setelah infeksi tertentu. Gejalanya dapat berupa nyeri dada, sesak, kelelahan, dan jantung berdebar.

Kelainan jantung bawaan juga dapat baru diketahui ketika seseorang dewasa. Sebagian kelainan ringan tidak menimbulkan gejala pada masa kanak kanak, tetapi menjadi terlihat ketika beban tubuh meningkat.

Ada pula penyakit katup dan gangguan irama yang tidak selalu berhubungan dengan pola makan atau kadar kolesterol. Karena itu, orang muda dengan kebiasaan hidup sehat tetap perlu memeriksakan gejala yang mengkhawatirkan.

Merokok Menjadi Faktor Risiko Besar

Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung. Zat dalam asap rokok dapat merusak lapisan pembuluh darah, meningkatkan kecenderungan pembekuan, mengurangi pasokan oksigen, dan membuat jantung bekerja lebih berat.

Rokok elektrik tidak dapat langsung dianggap bebas risiko. Aerosolnya dapat mengandung nikotin dan zat lain yang memengaruhi denyut jantung serta pembuluh darah.

Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok termasuk faktor risiko utama penyakit jantung menurut CDC. Diabetes, obesitas, pola makan tidak sehat, kurang bergerak, dan konsumsi alkohol berlebihan juga meningkatkan risiko.

Risiko dapat menjadi lebih tinggi ketika beberapa faktor muncul bersama. Seorang perokok berusia 30 tahun dengan tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi tentu memiliki keadaan berbeda dari orang seusianya yang tidak mempunyai faktor tersebut.

Berhenti merokok sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Bantuan dokter, konseling, dan terapi pengganti nikotin dapat dipertimbangkan bagi orang yang kesulitan berhenti sendiri.

Riwayat Keluarga Perlu Ditanyakan Secara Rinci

Riwayat keluarga bukan hanya pertanyaan apakah orang tua pernah sakit jantung. Usia ketika penyakit terjadi juga sangat penting.

Seseorang perlu mengetahui apakah ayah, ibu, saudara kandung, paman, bibi, atau kakek nenek pernah mengalami serangan jantung, stroke, gagal jantung, pemasangan ring, operasi bypass, atau kematian mendadak pada usia relatif muda.

Riwayat kolesterol yang sangat tinggi dalam keluarga dapat mengarah pada hiperkolesterolemia familial. Kondisi keturunan ini membuat kadar kolesterol LDL sangat tinggi sejak usia muda dan mempercepat terbentuknya plak pada pembuluh darah.

Pingsan berulang, kejang yang tidak diketahui penyebabnya, atau kematian mendadak saat tidur dan olahraga dalam keluarga juga perlu disampaikan kepada dokter. Beberapa penyakit otot dan irama jantung dapat diturunkan.

Riwayat keluarga tidak berarti seseorang pasti mengalami penyakit yang sama. Informasi tersebut membantu dokter menentukan apakah pemeriksaan perlu dilakukan lebih dini.

Tekanan Darah dan Kolesterol Sering Tidak Menimbulkan Keluhan

Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi kerap tidak menimbulkan gejala. Seseorang dapat merasa sehat selama bertahun tahun meskipun pembuluh darah terus menerima tekanan.

Inilah sebabnya pemeriksaan berkala tetap penting. Menunggu gejala muncul dapat membuat masalah baru diketahui setelah penyakit berkembang.

Pemeriksaan dasar dapat mencakup tekanan darah, berat badan, lingkar perut, gula darah, serta profil lemak yang meliputi kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida.

Frekuensi pemeriksaan ditentukan berdasarkan usia, hasil sebelumnya, riwayat keluarga, kehamilan, kebiasaan merokok, serta penyakit penyerta.

WHO menekankan bahwa sebagian besar penyakit kardiovaskular dapat dicegah dengan mengendalikan penggunaan tembakau, pola makan yang tidak sehat, kurang bergerak, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, dan pencemaran udara. Deteksi dini juga diperlukan agar penanganan dapat dimulai sebelum penyakit menjadi berat.

Pemeriksaan Tidak Selalu Langsung Memakai Alat Canggih

Dokter biasanya memulai dengan wawancara mengenai jenis keluhan, waktu kemunculan, durasi, pemicu, obat yang digunakan, kebiasaan hidup, dan riwayat keluarga.

Pemeriksaan fisik dapat mencakup tekanan darah, denyut nadi, suara jantung, suara paru, kadar oksigen, serta tanda penumpukan cairan.

Elektrokardiogram atau EKG digunakan untuk melihat aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan ini dapat membantu menemukan irama tidak normal, tanda serangan jantung, pembesaran jantung, atau peradangan tertentu.

Pemeriksaan lain dapat berupa tes darah, ekokardiografi, rontgen dada, monitor irama selama beberapa jam atau hari, tes latihan, CT koroner, atau MRI jantung. Jenisnya dipilih sesuai keluhan dan temuan awal.

Tidak semua orang dengan nyeri dada membutuhkan seluruh pemeriksaan. Sebaliknya, hasil EKG normal pada satu waktu belum selalu menyingkirkan seluruh gangguan apabila keluhannya kuat dan berulang.

Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan

Pertolongan darurat diperlukan ketika nyeri atau tekanan pada dada muncul mendadak, tidak hilang, berlangsung lebih dari beberapa menit, atau datang kembali.

Keadaan semakin mencurigakan apabila rasa tidak nyaman menjalar ke lengan, rahang, leher, punggung, atau perut serta disertai sesak, keringat dingin, mual, pusing, atau lemas.

Jangan mengemudikan kendaraan sendiri ketika gejala mengarah pada serangan jantung. Hubungi layanan gawat darurat atau minta orang lain membawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pingsan saat berolahraga, detak sangat cepat disertai nyeri dada, kesulitan bernapas berat, kebiruan, atau kehilangan kesadaran juga membutuhkan penanganan segera.

“Usia muda bukan alasan untuk menunggu ketika gejalanya mengarah pada keadaan gawat. Otot jantung yang kekurangan aliran darah membutuhkan pertolongan secepat mungkin.”

Kebiasaan Sehari Hari Membantu Menurunkan Risiko

Pencegahan dapat dimulai tanpa menunggu usia tertentu. Aktivitas fisik teratur membantu menjaga tekanan darah, berat badan, gula darah, dan kadar lemak.

Pola makan perlu memberi lebih banyak ruang untuk sayur, buah, kacang, ikan, protein rendah lemak, dan sumber serat. Makanan dengan kandungan garam, gula, serta lemak jenuh tinggi perlu dibatasi.

Tidur yang cukup juga penting. Kurang tidur berulang dapat memengaruhi tekanan darah, nafsu makan, berat badan, serta kemampuan tubuh mengatur gula.

Konsumsi minuman energi dan kafein perlu diperhatikan, terutama pada orang yang sering berdebar. Zat stimulan dapat mempercepat denyut pada sebagian pengguna.

Olahraga sebaiknya dinaikkan secara bertahap. Orang yang lama tidak aktif, mempunyai obesitas berat, riwayat keluarga, nyeri dada, atau pingsan perlu mempertimbangkan pemeriksaan sebelum memulai latihan dengan intensitas sangat tinggi.

Penyakit jantung pada usia muda memang tidak selalu dapat dicegah, terutama jika berkaitan dengan kelainan bawaan atau keturunan. Namun, mengenali gejala, mengetahui faktor risiko, serta memeriksakan perubahan kemampuan tubuh dapat membantu menemukan masalah lebih awal.

Nyeri dada, sesak, berdebar, mudah lelah, pusing, pingsan, dan pembengkakan kaki tidak selalu berasal dari jantung. Keluhan tersebut tetap tidak boleh terus diabaikan hanya karena seseorang merasa masih muda, aktif, dan terlihat sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *